Wednesday, May 31, 2017

Review NHW #2 - Indikator Profesionalisme Perempuan

REVIEW NHW#2 - INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
Kamis, 31 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (Jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN
Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.
Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “DEEP HABIT” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.

Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.
Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnyag tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.
Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :
🍀1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.
🍀2.Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur? misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau diganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
🍀3.Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.
Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.
Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)
🍀4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi seharie-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.
🍀5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan Juni. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai Juni 2017.
Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.

Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.
Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :
Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016.
Materi “MENJADI IBU PROFESIONAL” program Matrikulasi IIP, batch #4, 2017
Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #4, 2017

Sunday, May 28, 2017

Indikator Profesionalisme Perempuan


NICE HOMEWORK #2 - INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
Institut Ibu Profesional Matrikulasi Batch #4 Luar Negeri
 oleh: Dede Rahmadhany
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 
Indikator: /in·di·ka·tor/ n sesuatu yang dapat memberikan (menjadi) pe-tunjuk atau keterangan.
Semua orang boleh jadi ingin menjadi sosok professional, baik dalam pendidikan, pekerjaan bahkan dalam kehidupan sehari-hari (secara social maupun personal). Paling tidak menjadi menjadi sosok professional dimata keluarga.
Namun setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, apakah hidupnya bisa membawa kebermanfaatan bagi sesama, apakah sebagai individu kita mampu mengenali kekurangan dan kelebihan diri sehingga bisa menjadi acuan untuk berubah kearah yang lebih baik.
NHW#2 kali ini memberikan kesempatan bagi saya untuk membuat Indikator apa saja untuk menjadi seorang Perempuan Profesional yang mengenal dan memahami diri sendiri serta memberikan kesempatan kepada keluarga terutama suami dan anak untuk memberikan penilaian terhadap diri saya sebagai “nilai ukur diri, sebagai sebuah bentuk nasihat, sebagai sebuah motivasi” untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan dalam NHW#2 kali ini, kunci dari membuat Indikator di singkat menjadi SMART yaitu:
1. Specific (unik dan detail)
2. Measurable (terukur secara kuantitatif guna memudahkan pengukuran dan evaluasi)
3. Achievable (mudah dicapai, karena sesuai dengan kemampuan dan kapasitas organisasi atau individu)
4. Realistic (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari, fokus pada isu-isu strategis)
5. Timebond (Berikan batas waktu)

Sebagai Individu:
1. Sholat tepat waktu meskipun dalam kondisi sibuk.
2. Memperbanyak Sodaqoh, Sodaqoh dan Sodaqoh
3. Berupaya agar bisa Mengkhatam-kan  Al-Quran lagi yang sudah melewati dari target yang diharapkan. (terutama dalam Bulan Suci Ramadhan ini).
4. Percaya akan kemampuan diri sendiri namun tetap tawadhu’
5. Mampu berdamai dengan kekurangan diri sendiri.
6. Berbuat baik dan tidak pilih-pilih dalam menolong orang lain.
7. Berjanji untuk selalu mengambil sisi positif dari orang lain, dan mengabaikan sisi negatif-nya
8. Rajin mengikuti Kajian-kajian Islam, agar hati lunak terhadap nasihat, agar hidup mampu “memfilter” segala kebaikan dan keburukan.
9. Aku berhak dan layak untuk Bahagia

Sejujurnya, ketika mempersilahkan suami untuk menuliskan indikator-indikator apa saja yang beliau harapkan kepada saya sebagai seorang istri, saya berharap saya-pun dapat menuliskan indikator/penilaian saya terhadap-nya, agar Balance dan kami saling mengetahui keinginan apa yang ada didalam hati kami masing-masing sepanjang melewati hampir 7 tahun pernikahan ini. Dan ini lah beberapa hal yang Beliau harapkan kepada saya [dibagian bawah ini Beliau mengetik sendiri]:
Sebagai Istri:
1. Sebaiknya menjadi lebih penyabar kepada keluarga. Saya mengerti mengenai kesensitivan  perasaan beliau bukan berarti hal ini  selalu menjadi hambatan karena seiring waktu dan dewasa seseorang  akan lebih bisa menguasai emosinnya.
2. Lebih banyak senyum
, salah satu senyum yg saya rindukan  pada saat saya pulang kerja. (karena anak saya selalu tersenyum dan happy ketika saya pulang kerja).
Demikianlah keinginan dan harapan suami saya terhadap saya yang Beliau ketik sendiri. Sedikit bergetar membaca poin tiap poin-nya, sayangnya saya tidak punya hak jawab (kenapa dan mengapa) juga tidak diberikan kesempatan “defense” hehehe.. Namun saya terima dengan lapang dada, semoga saya bisa menjadi pribadi seperti yang dia harapkan.
Hal-hal dan harapan ini yang ingin saya lakukan dan pertahankan:
Sebagai Ibu:
1. Mempupuk Kesabaran yang tiada berbatas.
2. Menyediakan telinga untuk menjadi pendengar utama.
3. Memperhatikan asupan makanan.
4. Tidak membandingkan dengan anak orang yang lain.
5. Percaya akan kemampuan-nya dan fitrah-nya sebagai seorang anak.
6. Menjadi Ibu, Guru, sahabat, dan teman bermain bagi-nya.
7. Sebelum tidur sejak Dia bayi dan sampai detik ini, saya tidak pernah lupa untuk meminta maaf kepada putra saya atas segala kesalahan dan ketidaksempurnaan saya sebagai Ibu-nya.
8. Mendoakan kebaikan dan kebahagiaan disepanjang hidup-nya

Ohhh.. Anak 5 tahun ini.. He’s not baby anymore.. Dia bicara sangat banyak, dia berani menginterupsi, mengomentari, menyatakan ketidaksetujuan dalam bentuk marah, nangis, dan kesal. Dari obrolan kami sebelum tidur di dua hari berturut-turut, ketika saya menanyakan pertanyaan yang sama:
“Agatha, apa yang Agatha inginkan dari Mama dan apa yang Agatha harapkan dari Mama?”
Sebagai Ibu:
Dia ingin agar saya selalu bersamanya diberbagai kondisi:
1. Agatha mau Mama menemani Agatha ke sekolah.
2. Agatha mau Mama menemani Agatha Menggambar.
3. Agatha mau Mama menemani Agatha Bersepeda.
4. Agatha mau Mama menemani Agatha bermain di playground.
5. Agatha ga pengen Mama pergi bekerja, biar Papa ajah yang kerja.
6. Agatha mau Mama fokus sama Agatha aja

Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", yang artinya, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim).

Tulisan ini juga dapat dibaca dalam bentuk PDF File pada link berikut: http://bit.ly/NHW2-IndikatorProfesionalismePerempuan

Tuesday, May 23, 2017

Review NHW #1 - Adab Menuntut Ilmu

REVIEW NHW#1 - ADAB MENUNTUT ILMU
Selasa, 23 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #4?
Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline:).

Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”
INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING DIFFERENT RESULT - Albert Einstein

Setelah kami cermati, ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu ”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#4 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review, setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.
Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :
MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?
JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI.

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.
Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,
SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik. 
Tetapi di Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :
Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015
Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #4, 2017
Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #4, 2017

Tuesday, May 16, 2017

30 Menit Lebih Dekat dengan Pengurus IIP Nasional

Program ini adalah program jeda di kelas Matrikulasi Ibu Profesional Batch #4. Kita akan chat secara langsung dengan para "guru tamu" dimana kita ingin mengenalnya lebih dekat.
Program dimulai setiap Senin - Jumat pekan perkuliahan ke-5 hingga ke-9. Setiap kelas secara bergantian akan dihadiri oleh Tim Nasional IIP :
- Ibu Septi Peni Wulandani (Ibu Rumah Tangga, Founder Institut Ibu Profesional).
- Bapak Dodik Mariyanto (Imam Keluarga, Founder Padepokan Margosari).
- Itsnita Husnufardani, Leader Fasilitator Nasional.
- Ikhe Pratiwi Fanani, Sekjen Fasilitator Nasional.
- Eva Novita Ungu, Manager Keuangan Nasional.
- Dzikra I. Ulya, Ketua Fasilitator Bunda Sayang Nasional.
- Yessy Liana Putri Yessy, Ketua Sejuta Cinta Nasional.
- Yesi Dwifitria, Leader Koordinator Nasional.

Nantikan kehadiran mereka di kelas Matrikulasi Batch#4 Regional IIP di wilayah Anda. Pastikan Anda mengenal mereka lebih dekat. Silakan hubungi fasilitator Anda.
Jangan sampai terlewatkan :-)

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional Batch#4/

Adab Menuntut Ilmu

NICE HOMEWORK #1 - ADAB MENUNTUT ILMU
Institut Ibu Profesional Matrikulasi Batch #4 Luar Negeri
 oleh: Dede Rahmadhany


Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
  • Sebagai mahkluk hidup yang begitu banyak kekurangan, begitu banyak hal yang ingin saya pelajari. 
Ilmu kehidupan yang benar-benar ingin saya tekuni adalah menjaga “Ghirah” dalam mendidik anak secara Islami demi membimbing anak-anak menjalani kehidupan yang Maha Luas ini. Karena Islam mengatur berbagai hal dalam kehidupan termasuk “Ilmu dalam mendidik anak”.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
  • Sebagai seorang Ibu Saya berusaha membuat anak saya lebih baik dari saya. Baik dalam segi pendidikan, keislaman maupun dalam kehidupan sehari-hari. 
Tapi hal krusial-nya adalah “peran saya” sebagai Ibu yang masih saya rasa sangat-sangat kurang. Karena kadang terbentur dengan pikiran-pikiran (masalah-masalah) lain, semangat yang memudar, kecemasan-kecemasan bila tidak mampu memberikan yang terbaik, Ketakutan bila tidak sesuai dengan harapan karena ketidakmampuan saya sendiri karena minimnya ilmu dan cara memberikan pengajaran yang sesuai. Ketakutan apabila anak menjadi merasa jemu dan merasa tertekan karena banyak-nya hal-hal yang harus kami lakukan bersama-sama. Sampai kepada ketidaksabaran dalam mendidik dan mengasuh anak. Saya ingin terus menjaga “Ghirah” ini, dan konsisten untuk mendidik dan menyeimbangkan anak saya dengan ‘Ilmu Agama maupun Ilmu Kehidupan” tentunya dengan pola yang sebaik-baiknya.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
  • Sebenarnya Saya tidak punya strategi khusus. Saya menjalaninya dan membuatnya semampu saya (yang terkadang dibarengi pikiran selalu merasa kurang ). 
Saya masih menggali dari buku, artikel-artikel parenting yang saya baca dari internet, dari obrolan dan belajar bersama teman-teman tentang bagaimana cara pola asuh mereka dalam mendidik anak dan senantiasa menumbuhkan semangat belajar tersebut. Lalu berusaha mencoba mengambil sisi positif dan berusaha menerapkan hal tersebut kepada anak saya. (tentu dengan diskusi lebih dahulu dengan suami). 
  • Saya sudah berusaha menerapkan-nya dengan membuat catatan-catatan kecil sebagai pengingat, dan menjadwalkan hal-hal baik apa yang harus dilakukan setiap hari bersama anak.
  • Bila menemukan pola baru dalam prilaku anak, saya selalu mendiskusikan dengan suami agar mendapat visi yang sama dalam mencari solusinya untuk menghadapi, serta mendidiknya. Dan tentunya tetap sulam tambal dalam arti bila satu solusi tidak cocok untuk diterapkan kami akan mengganti dan mencari solusi lain.
  • Saya butuh Guru, butuh penyemangat, butuh teman-teman yang satu visi dan misi dalam kehidupan (teman-teman yang tidak nyinyir dan menghakimi, teman-teman yang mau belajar bersama-sama saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan), terutama dalam hal mendidik anak secara Islami. Saya berharap ini adalah langkah yang tepat untuk bergabung bersama IIP. Semoga saya termotivasi mengambil hal-hal baik dari teman-teman semua disini. 
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Saya adalah tipe ibu Cemas, Cerewet dan Tidak Sabar. Ketiga hal ini lah yang harus saya perbaiki agar damai dan tenang dalam mendidik dan memahami anak saya. 
  • Mengilangkan kecemasan atas kekurangan diri saya sebagai Ibu, yang merasa belum maksimal dalam mendidik dan mengajari anak dirumah. Kecemasan atas kurangnya diri saya ketika melihat anak orang lain lebih pintar dan lebih cepat paham. Cemas terhadap pandangan orang lain dan keluarga bahwa seorang Ibu yang tidak bekerja seperti saya ini, haruslah lebih baik dalam menjaga, mendidik dan merawat anak dibandingan dengan Ibu bekerja, karena waktu saya bersama anak tentu lebih banyak dan intens.
  • Saya selalu mencereweti hal-hal kecil. (yang dilakukan oleh anak dan suami saya). Sehingga hal tersebut membuat saya tidak puas dan berakhir dengan berubahnya mood saya. Saya tidak tahu apakah ini yang disebut perfeksionis. Saya menyadari bahwa hal ini harus saya rubah. Sebagai contoh
o Saya bisa kesal apabila saya minta tolong agar anak mengembalikan piring yang sudah selesai dimakan ke tempat cucian tetapi dia menaruhnya bukan pada tempat yang semestinya meskipun sudah saya ingatkan berkali-kali. 
o Saya mencereweti bila dia memakai sepatu yang tidak sesuai dengan warna kaus kakinya hari itu 
o Saya mencereweti suami apabila suami tidak menaruh sepatu pada rak sepatu yang sudah semestinya.
  • Tidak sabar (ketidaksabaran) sehingga menimbulkan perubahan Mood yang membuat saya dengan mudah mengeluarkan kata “ya udah terserah”. Dan bisa dipastikan setelahnya saya menjadi malas untuk melanjutkan melakukan apa saja, atau jika harus benar-benar dilanjutkan, tidak saya lakukan sepenuh hati.
"Saya bukanlah Ibu yang sempurna, tapi saya ingin anak saya tahu, bahwa sepanjang hiudp saya hal terpenting adalah mengupayakan “Kebahagiaan & Keberhasilan” Hidupnya."

Tulisan ini juga dapat dibaca dalam bentuk PDF File pada link berikut: http://bit.ly/NHW1-AdabMenuntutIlmu

Monday, May 15, 2017

Materi #1 - Adab Menuntut Ilmu

KELAS MATRIKULASI BATCH #4
INSTITUT IBU PROFESIONAL
☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 15 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015