Monday, December 25, 2017

Training For Facilitator Matrikulasi Batch #5

Training For Facilitator Matrikulasi Batch #5
Alhamdulillah Wasykurillah, pengumuman kelulusan saya di Training For Facilitator Matrikulasi Batch #5 serta memperoleh Badge Outstanding Performance selama menjalani 3 bulan masa training di kelas Training Fasilitator  menjadi salah satu booster saya di akhir tahun 2017 ini. Perjuangan belum berakhir,  di tahun 2018 saya dan rekan-rekan yang lain masih akan berjuang  selama 9 Minggu dikelas Matrikulasi Batch #5.
Outstanding Performance
Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saya dalam membersemai Bunda-bunda hebat dari seluruh dunia. Semoga apa yang saya lakukan ini mempunyai nilai manfaat untuk diri saya sendiri, keluarga, komunitas, juga bagi orang lain.  In shaa Allah.

"Perubahan Adalah Kunci"


PERUBAHAN ADALAH KUNCI
Oleh : Septi Peni Wukandani

Memasuki tahun 2000 adalah masa-masa galau dimana saya sebagai seorang ibu, seorang perempuan dan seorang istri sibuk mencari jati diri

Meskipun sudah 5 tahun melewati masa transisi dari mahasiswi menjadi istri

Tidak mudah memang, mulai dari memahami diri sendiri sampai dengan melangkah sesuai nurani

PERUBAHAN ADALAH KUNCI

Memulai proses memantaskan diri sendiri, menjadi mahasiswi abadi, di universitas kehidupan yang tak bertepi

8 tahun saya jalani proses menempa diri
bergelut dengan emosi dan nurani

PERUBAHAN ADALAH KUNCI

Berusaha menuliskan kembali perjalanan menempa diri dalam meraih mimpi

3 tahun kami bagikan mimpi itu ke semua orang yang ingin berproses memantaskan diri

Berbagi cerita dengan berbagai ragam emosi

Banyak yang menerima dengan senang hati, tetapi lebih banyak yang tersenyum sinis membakar hati

Kamipun tak pernah mau berhenti

#changemakerfamily
PERUBAHAN ADALAH KUNCI

6 tahun yang lalu, kami memulai sebuah aksi, dengan konsep berbagi dan melayani,

membagi apa saja yang membuat kami bisa berkontribusi,

melayani siapa saja yang ingin meraih mimpi,

mulai bertemu dengan satu persatu ibu pejuang pembelajar sejati,

Kamipun saling menambatkan hati di pelabuhan ilmu cinta yang hakiki.

Belajar bersama, tumbuh bersama menjadi penyemangat kami,

Jenjang belajar mulai kami susun dan siap kami lalui,

Bunda Sholiha menjadi tujuan kami,
Program matrikulasi menjadi awalan kami,

Berawal dari seorang diri, kini kami membelah diri

Dari Sabang sampai Manokwari

Setiap titik di belahan bumi inipun mulai saling berkoneksi

di kelas yang tak pernah berdinding dan bertepi

PERUBAHAN ADALAH KUNCI

#changemakerfamily
#ibuprofesional6th

menjadi hastag kami untuk penanda diri di tahun ini


menjadi rumah virtual kami untuk berbagi dan saling berdiskusi

Kini kami tidak sendiri
kami berdiri bersama para ibu sejati
yang sedang berproses untuk bisa berdikari dan punya jati diri
bergerak sesuai mata hati

Salatiga, 22 Desember 2017

/Septi Peni Wulandani/

Tuesday, December 19, 2017

Aliran Rasa Level 2: "Melatih Kemandirian Anak"

Aliran Rasa Level 2: "Melatih Kemandirian Anak"
Bunda Sayang #3 Kelas Internasional

Perjalanan "Melatih Kemandirian Anak" dalam Tantangan 10 Hari telah berakhir, namun pelajaran kemandirian dalam dunia nyata masih akan terus berlanjut, karena penerapan dan konsistensi adalah tantangan paling nyata selanjutnya. Sebagai role model terdekat bagi seorang anak, peran orang tua adalah memberikan teladan. Kata teladan dalam hal ini tentunya bermuara kepada maksud-maksud dan tujuan-tujuan kebaikan. Ini tugas berat orang tua, namun bukan berarti pula tidak bisa diupayakan. Ketika anak belajar, maka proses belajar yang sama pula yang harus dilakukan para orang tua. 
Hasil 17 hari tulisan tantangan pengamatan kemandirian saya kepada Agatha lebih berkutat kepada kemandirian dalam segi pengelolaan emosi, kemandirian dalam memilih apa yang di inginkan serta bertanggung jawab terhadap pilihannya, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri, berpikir dan bertindak kreatif serta penuh inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya, mempunyai rasa percaya diri, rasa perduli, melatih kesabarannya, memperoleh kepuasan dari usahanya serta cara  dia bersikap dengan sekitarnya. Semuanya saya coba rangkum dalam tulisan-tulisan saya dibawah ini:
Sebagai pemeran utama dalam tantangan ini, Agatha sudah melakukan peran-nya sesuai dengan kata hatinya, tanpa paksaan, intervensi, tanpa arahan saya sebagai sang sutradara nya, inisiatif yang muncul itulah yang saya jadikan objek pengamatan. Memang dalam pelaksanaannya banyak hal juga yang tidak bisa saya hindari, namun itu tidak mematahkan semangat saya untuk percaya dan konsisten akan apa yang sudah berjalan. Terus menyemangati, mengupayakan, memberikan teladan, memfasilitasi, dan yang terakhir doa. Doa yang tiada pernah terputus untuknya Apapun yang saya lakukan sebagai orang tuanya saat ini adalah bekal baginya kelak. Namun dalam kehidupan selanjutnya Agatha harus berpijak pada kakinya sendiri. Memaknai kemandirian seutuhnya bahwa kelak dia akan berdiri sendiri; tidak tergantung pada orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri.


#AliranRasa
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirianAnak
#KuliahBunsayIIP
#InstitutIbuProfesional

Monday, December 18, 2017

Program Matrikulasi IIP Batch #4 - Kelas Koordinator

Program Matrikulasi IIP Batch #4 - Kelas Koordinator

Banyak syukur kepada Allah Sang Pemberi Kemudahan di dalam perjalanan saya melewati setiap tantangan dalam komunitas ini. Malam ini Ketua Divisi Matrikulasi, Mba Yani Retno Hapsari mengumumkan bahwa kami mampu mengikuti Program Matrikulasi IIP Batch #4 selama 3 bulan di Kelas Koordinator dan dinyatakan LULUS. Semoga langkah ini menjadi langkah yang bermanfaat dalam menjalani peran saya sebagai member komunitas sekaligus sebagai Ibu Pembelajar pada Institut Ibu Profesional ini. Semoga pula menjadi jalan untuk menambah berkah ilmu dan dapat membawa kebermanfaatan bagi sesama. Amin In shaa Allah

#Sertifikat
#Kelas KoordinatorMatrikulasi
#Institut IbuProfesional
#IbuProfesional
#MembangunKomunitas
#MembangunPeradaban
#MembangunKekuatan
#MembangunTeam

Badge Game Level 2: "Melatih Kemandirian Anak"

Alhamdulillah, puji syukur saya kembali berhasil melewati Game Level 2 (Kedua) "Melatih Kemandirian Anak" pada tantangan 10 hari. Dan Alhamdulillah juga saya mampu mencapai 17 hari tantangan  dari 10 tantangan hari yang diwajibkan.
Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.
Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.
KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.
Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.
Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.
Ketika hari ini kita bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka:
Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah
Kalimat ini harus menjadi penyemangat saya pribadi, bahwa apa yang saya terapkan hari ini in shaa Allah berguna sebagai bekal putra saya suatu hari kelak, apabila saya sudah tidak bersama-sama dia lagi dan apabila dia harus berjuang sendiri menghadapi dunia. Terimakasih Agatha karena sudah mau belajar bersama-sama Mama dalam tantanga kemandirian ini.

#BadgeLevel2
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Review Tantangan 10 Hari | Materi Bunda Sayang #2: "Melatih Kemandirian Anak"

Review Tantangan 10 Hari
Materi Bunda Sayang #2: MELATIH KEMANDIRIAN ANAK
Kelas Bunda Sayang #3 - Institut Ibu Profesional


Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”. 

Kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inilah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c. Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

🌻Ciri khas kemandirian anak :
a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.
b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.
c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.
d.   Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :
a.   MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b.  PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c.  INISIATIF, mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e.  KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.


Sumber Bacaan:

Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016
Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

Saturday, December 16, 2017

"Memperoleh Kepuasan dari kegiatannya"

Agatha 2 years old
Sabtu kami kali ini bertualang ke Bukit Timah Nature Reserve Park, sekitar 12km dari Apartemen kami. Rencana untuk kesini memang sudah lama, namun belum terlaksana. Ketika saya mengajak suami untuk berolahraga, suami langsung berinisiatif mengajak ke Bukit Timah Nature Reserve Park. Wah dalam hati saya kebetulan dari dulu pengen kesana. Malam sebelum berangkat Bapak suami sudah sounding ke Agatha, "tha besok mau stone- stone ga?" (bahasa lain dari naik gunung atau naik bukit ala Agatha). Agatha langsung menjawab dengan antusias pula "mauu, aku mau - aku mau.."I like stone-stone". Dan jadilah hari ini kami bertualang kesana. Bapak Suami juga tidak lupa mewanti-wanti dari semalam kepada Agatha "nak, besok tidak ada gendong-gendongan ya, kalau penat atau cape, kita bisa berhenti dan beristirahat, deal??" "Deal Pa.." sahut Agatha. 
Jarak dari pintu utama menuju visitor center saja sekitar 300m, dalam hati saya, "duh jauh juga ya.." emaknya dah keok duluan, belum juga naik ke bukitnya hahaha... Melewati visitor center, jalan menuju ke atas semakin menanjak, untuk sampai di area yang lebih datar kami harus melewati sekitar 700m, dannn itu ajah dah bikin napas ngos-ngosan, "ah umur emang ga bisa bohong" dalih saya kepada suami hahaha.. lalu kami melanjutkan 150m lagi hingga menuju summit dengan meniti anak tangga yang lumayan tinggi. Mungkin bagi beberapa orang naik bukit kaya gini mah sepele banget ya, tapi bagi saya yang sangat jarang berolahraga ini betul-betul bikin keringat bercucuran dan terseok-seok (lebay) hehehe..
Namun alhamdulillah Agatha tidak tampak mengeluh, hanya berhenti minum 2x dan dia berjalan sangat cepat melebihi tenaga saya, malah terkadang berlari kecil.. "kece dah tenaga ni bocah" 😄😄
Untuk kegiatan petualangan kaya gini, sejak kecil memang saya dan suami sudah membiasakan Agatha sejak dia berusia 2 tahun, mengajak dia bermain outdoor, baik itu ke taman atau ke hutan. Di alam Agatha bisa bertemu dengan banyak hal. sesuatu yang tidak pernah dia temukan di kota tentunya. Kalau pulang mudik ke rumah nenek dan Eyang-nya di Sumatra dan Semarang pun dia sangat menikmati bermain di alam. Dari hutan, pantai hingga sungai semua dijajal.
Alhamdulillah Agatha's Outdoor Activities hari ini berjalan lancar, si anak happy dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan terlihat puas karena berhasil melewati berbagai tantangan selama perjalanan menuju puncak bukit.
 Bukit Timah Nature Reserve Park - Hindhede Nature Park
Sedikit tentang Singapura, yang meskipun hanya sebuah negara kecil, namun cara pemerintah mengelola garden, park dan alamnya sangat apik. Dan hampir 70% park di Singapore sudah saya jelajahi bersama Agatha dan semuanya punya ciri khas masing-masing. Di Bukit Timah ini, meskipun fisik cukup lelah karena jalan yang terus menanjak namun kami dimanjakan oleh pemandangan yang indah disekitarnya. Bunyi suara burung, gemercik air, suara jangkrik, dan serangga hutan terdengar sangat indah. Oksigen bersih ada dimana-mana. Sesekali kami bertemu biawak, burung, tupai, semut besar, kupu-kupu, ikan dan kura-kura. Disini sebenarnya ada babi hutan dan monyet juga tapi mungkin hari ini lagi ngumpet karena takut sama Agatha hahaha..
Perjalanan hari ini ditutup di Hindhede Nature Park, saya dan suami menghabiskan perbekalan sementara Agatha duduk dipojokan sambil menggambar. Allhamdulillah untuk hari ini dan saya memberi Agatha pujian Excellent!! Tunggu jelajah alam kita berikutnya ya nak! 😍😍😍

#Hari17
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Friday, December 15, 2017

Kemandirian Dalam Menyampaikan Pendapat

Ketika Solat Asar bersama tadi, Agatha solatnya tidak khusyuk, gerakannya pake gaya slow motion, setelah saya selesai solat, saya tegur.. "Kok Agatha Solatnya main-main..." Ayo diulang solatnya.. Memang cara menegur saya agak sedikit keras. Saya memang paling ga bisa mentolerir sesuatu yang berhubungan dengan ibadah. Itu sudah saya sounding berulang-ulang tiap dia mulai solat, "ayoo yang fokus, menghadap Allah tidak boleh main-main.." Dan ketika saya menyuruh dia mengulang solatnya, Agatha malah ngambek tidak mau dan berlari ke kamar lalu mengunci pintu kamar. Oh ok... dalam hati, saya pun tidak akan membujuk dia dan mengkonfirmasi sikapnya. Saya cuek ajah dan abaikan... Namun selepas Magrib kami sudah biasa lagi, dan berkomunikasi lagi. Tapi memang saya belum membahas masalah penolakan mengulang solat Asar tadi. Sebelum tidur Agatha tiba-tiba berkata "Ma.. maaf ya tadi marah-marah, dan Agatha solatnya tidak fokus"...  Biasanya semarah apapun saya atas polah Agatha akan luluh mendengar permohonan maaf nya, meskipun besok-besok diulang lagi hahaha.... "Iya gak apa-apa, Agatha kan sudah tau, kalau Mama tidak suka Agatha main-main ketika sedang beribadah. Mama selalu ingatkan itu tiap kali nak.." Jawabku.. Dia mengangguk. Lalu berbicara lagi.. "Tapi ma, if u want say something to Agatha, no shouting donk ma.."
Jlegerrrr kaya ketampar gitu rasanya... Saya cukup terkejut, tapi berusaha menguasai diri.. Astaghfirullah, ini diluar kesadaran saya sebagai orang tua. Benar adanya saya itu tipe orang yang berbicara cepat, keras dengan logat Sumatra dan tidak bisa berbasa-basi. Jadi Straight to the point.. Walaupun saya merasa bahwa itu bukan lah bentuk kemarahan tapi sebuah ketegasan, namun  Agatha tetap mengartikan itu sebagai sebuah kemarahan. Lalu saya tanyakan "trus Mama harus bicara kaya gimana menurut Agatha?" Dia menjawab: "no shouting.. ngomongnya gini.. "Agatha fokus ya solatnya, Agatha don't put something in your mouth, Agatha ayok pergi sekolah "
Dari pembicaraan ini, di satu sisi saya kaget sekaligus malu, ini waktunya saya harus mengintrospeksi diri kembali. Apa yang menurut saya biasa saja, ternyata terdengar  tidak enak bagi Agatha. Di sisi lain Anak umur 5 tahun ini membuat saya bangga, ternyata dia cukup mandiri untuk mampu menyampaikan pendapat nya. Sehingga saya mampu memahami apa yang ada dalam pikiran dan, hati nya. Terimakasih nak.. Guru kecilku.. Maafin Mama ya tha.. Mama belajar banyak darimu..

#HariKe16
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Thursday, December 14, 2017

"Jadilah Pribadi Mandiri Secara Emosional"

Menuju hari ke-15 dalam tantangan melatih kemandirian ini. Saya mencoba mereview kembali perjalanan sejak hari pertama melakukan pengamatan kemandirian ini, apa saja yang sudah Agatha lakukan. Ternyata tidak banyak yang berubah dalam arti, hal-hal yang Agatha lakukan sudah sesuai dengan tahap perkembangan kemandiriannya, walauuuuu.. memang masih terus harus dipoles dan di ingatkan hehehe, ya begitulah anak-anak (lha para orang tua pun masih harus sering diingatkan kok, hehehe..) Konsisten itu tidak hanya untuk mereka, tetapi sebagai orang tua kita juga harus konsisten dalam memberikan semangat, arahan dan stimulasi. Dan tugas melatih kemandirian ini adalah sebuah proses panjang bagi kita para orang tua. Satu hal lagi, bagi saya ternyata menjaga mood anak itu penting hehehe. Sejauh ini perjalanan tantangan yang saya lewati sejak materi komunikasi produktif sampai kepada melatih kemandirian, poin krusial yang saya garis bawahi adalah "penting sekali menjaga emosi dan mood anak". Karena bila emosi si anak terjaga, maka semua tantangan akan berjalan mulus dan lancar. Sedangkan tantangan bagi orang tua nya sendiri cuma satu yaitu "SABAR" hahahaha... (Pekerjaan berat ya Ibu-ibu... hehehe).
Hari ini adalah farewell Gibran teman mengaji Agatha, karena Rabu besok Gibran akan kembali ke Indonesia. Jadilah setelah jam mengaji selesai kami membuat janji akan bertemu di Library Tampines Hub. Namun perjalanan menggunakan bus, yang tertulis di peta melewati 33 stop pemberhentian bus ternyata lebih jauh dari yang saya perkirakan, sehingga pada playdate hari ini, kami telat cukup lama.. Sepanjang jalan Agatha sedikit risau, kenapa bus ga sampai-sampai juga ke tempat tujuan. Berkali-kali dia bertanya kepada saya "Ma.. kita mau kemana sih? jauh bangetttt rumah Gibran nya.." Saya jawab.."kita ga ke rumah Gibran nak, kita ketemu di Library". "Trus kenapa ga sampai-sampai nih bus nya?" tanya nya lagi. Huft.. "Mama juga bingung tha" Dalam hati saya, duhh playdate pertama dengan Gibran membawa kesan yang buruk kepada Bunda Dini dengan telatnya kami yang masih terkatung-katung diperjalanan. Sebagai Ibu saya merasa malu sekali, ini pelajaran buat saya, estimasi waktu di peta ternyata ga sama dengan realitanya. Jadi lain kali harus prepare waktu untuk lebih cepat lagi berangkatnya.
Karena boring di dalam bus, Agatha meminjam handphone saya, dan mengirimkan beberapa Voice Message kepada Gibran, dia mengatakan: "Gibran, Bus berjalan lama sekali, tunggu aku ya, maafin bus nya lama, kamu lagi apa? baca buku apa?" (dihh lagi-lagi nyalahin bus.. padahal ini salah Mama, yang salah prepare waktu deh tha.. hikss!). Saya juga berkali-kali mengirimkan WhatsApp meminta maaf atas keterlambatan selama diperjalanan tadi. Pukul 3.30pm akhirnya kami tiba di Library Tampines Hub. Bunda Dini, Gibran dan Adik Rayyan sudah menanti cukup lama. Alhamdulillah Bunda Dini mengerti karena saya sudah menjelaskan sepanjang diperjalanan tadi. Semoga ga kapok yah main sama Agatha..
Selanjutnya anak-anak sudah asik mengobrol bersama, seolah tidak ada drama karena telat seperti yang saya khawatirkan. Anak-anak sudah membaur dan membaca buku bersama. Ah... kadang kita perlu belajar dari sikap anak-anak, tidak sedih, tidak mempengaruhi mood mereka, tidak pula kesal dan marah. Sikap seperti ini menurut saya cerminan dari hati yang tulus yang dimiliki anak-anak. Anak-anak lebih fokus pada hal yang mereka inginkan saja, yang penting  sudah bertemu dengan teman nya dan bisa segera bermain bersama, tanpa harus mengungkit-ungkit kesalahan dan membahas sesuatu yang sudah terjadi. See.. kadang kita sebagai orang dewasa susah lho ya, bersikap seperti mereka hehehe. Jadi pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini adalah bagaimana cara anak-anak mampu mengelola dan memanage emosi serta kemandirian dalam bersikap. Sebagai orang dewasa hal-hal kaya gini patut menjadi contoh bagi kita.
Memang betul adanya bahwa selain pengalaman, anak adalah salah satu guru yang terbaik. Anak-anak mengajari kita bersikap apa adanya tanpa kepalsuan. Yahh... memang sih terkadang yang saya lihat dari Agatha selama ini, emosi dia masih berperan penting dalam melatih kemandirian nya. Seperti yang saya ceritakan diatas, saya masih mendapat tugas untuk menjaga mood nya. Sejauh dia happy maka semua akan berjalan lancar. Padahal dalam hidup kan tidak selama akan menemukan kemudahan dan kebahagiaan, suatu hari nanti anak akan tumbuh dewasa, dan Orang tua tidak bisa terus bersama dan menjaga sang anak. Karena itulah Agatha harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi dalam hidup nya. Semoga dengan memupuk hal-hal baik dalam kemandiriannya saat ini, menjadi bekal bagi nya nanti. Semoga kelak semakin besar, Agatha lebih mampu mengelola dan mengatasi emosinya sendiri, sehingga suatu hari nanti, kemandiriannya lah yang akan berperan lebih baik daripada perasaan emosi nya. In shaa Allah.
Thanks to Gibran for Today 💖💖💖, see u next time in Indonesia

#Hari15
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

PANDU 45

PANDU 45

Buat ayah bunda yang kesulitan membersamai anak menemukan bakatnya, kami membuatkan panduan berbagai macam aktivitas yang bisa anda gunakan untuk menjadi salah satu pedoman berkegiatan bersama anak. Cara ini kami namakan Pandu 45

Sebelum mereka berusia 16 th, perbanyaklah ragam kegiatan anak, sehingga mereka kaya akan wawasan, kaya akan kegiatan, sehingga di usia produktifnya nanti akan muncul kekayaan gagasannya.

Jangan buru-buru ditestkan beragam macam test bakat jenis apapun. Kita diberikan kekuatan mata hati dan mata fisik kita sebagai orangtua. 

Cara ini sangat mahal dibandingkan dengan mengikutkan anak-anak dengan beragam tes bakat.

Karena cara ini tidak bisa dibayar dengan uang, tapi harus dibayar dengan waktu anda, pikiran anda dan hati anda untuk anak-anak.

Ebook yang kami susun inipun mahal, tidak bisa dibayar dengan uang, tapi dibayar dengan kemauan anda menemani anak-anak menemukan jalan hidupnya dengan sabar, rileks, tidak menggegas dan tidak perlu menitipkan (baca : memaksakan) mimpi kita di jalan hidup anak-anak. 

Karena anak-anak dilahirkan untuk menghadapi jamannya.

Silakan unduh-print-praktek-berikan feedback ke kami

Ebook ini boleh anda jadikan hadiah untuk teman-teman tercinta, agar anak-anaknya bahagia

http://bit.ly/Pandu45

Salam Cinta,

Dodik dan Septi

Wednesday, December 13, 2017

Anak laki-laki turun kedapur? Why Not?.. ^___^

Saya baru saja membaca sebuah artikel "12 kriteria cowok yang tak boleh kamu lepaskan" (Wuidihhhh! judulnya "greget" bangets dan saya iseng banget😅😅, artikel ini tampaknya ditulis bagi mereka yang sedang memilih pasangan kaya, xoxo.. )
Dalam hati sendiri, mau dapet kriteria cowok yang kaya gimana lagi sih, udah brojol anak satu kaya gini...hehehehe.
Jadi pada tulisan di artikel itu, salah satu kriterianya adalah Dia Tidak Menolak Turun ke Dapur. Catettt ya ibu-ibu, mau dia laki atau perempuan kalau nyari mantu cari yang kaya gini hahahaha.. Pada artikel itu terdapat kalimat yang ditulis "Laki-laki dengan kualitas ini adalah salah satu yang pantas di pertahankan! ehemmm.. hahahaha...
Dan Alhamdulillah saya mendapatkan yang mirip-mirip alias mendekati kaya gini pada sosok si Bapak suami. (Ecieeeeee..) yaitu suami yang doyan masak alias tidak asing turun ke dapur. Ini sih setelah ngobrol-ngobrol ternyata emang cita-cita si Bapak suami dari dulu adalah "Architect yang merangkap jadi Chef hehehehe.. Jadi Arsiteknya udah, jadi "chef" nya belom hehehe..
Jadi dia emang senang sekali bisa mempraktek-kan hobby memasaknya itu. Alhamdulillah, So' lucky I'm ya kan...hahahaha..
Setiap Sabtu dan minggu suami turun ke dapur, tak jarang bahkan hari biasa pun dia rajin masuk dapur setelah pulang bekerja, rajin membeli bahan makanan yang dia sukai untuk dia masak, lalu memasak apa yang dia suka dan keluarga kami sukai. Kesenangan masuk dapur ini sudah dimulai sejak kecil. Karena kedua orang tua (mertua saya) yang bekerja, membuat suami menjadi lebih mandiri. Dan jadi bisa memasak. Yang awalnya memasak hanya untuk sekedar memenuhi rasa lapar, lambat laun memasak menjadi aktivitas yang menyenangkan baginya. Bahkan boleh dibilang menjadi salah satu hobby nya.  Hal ini baru saya sadari juga setelah kami berumah tangga. Dia tidak segan turun ke dapur dan membantu saya. Baik memasak atau melakukan pekerjaan dapur lainnya. Kemandirian seperti ini lah yang ingin terus saya coba terapkan kepada Agatha sejak kecil. Memang sejak kecil setiap saya berada di dapur, saya selalu mengajak Agatha untuk membantu apapun yang bisa dia lakukan. Tentu dengan pengawasan saya. Terutama bila berhubungan dengan masakan atau makanan yang dia sukai. Seperti hari ini, bangun tidur sore dia tiba-tiba meminta saya untuk membuat chocolate cake  "Ma, i want to make chocolate cake with u" "Boleh" jawab saya. "tapi Agatha bantuin ya" lanjutku. Jadilah hari ini kami membuat cake favoritenya. Tentu si bocah sangat excited, mulai dari memecahkan telur, menuangkan vegetable oil, mengoles loyang sampai mengaduk tepung dilakukan dengan riang gembira.
Dan malam ini, kami menyambut Bapak suami dengan sebuah chocolate cake sederhana buatan Mama dan Agatha". 😊😊😊😊

#Hari14
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP


Cemilan Rabu Ke-3 | Kelas Bunda Sayang Level ke-2: "Kemandirian usia 15 tahun keatas"

🍥Cemilan Rabu ke-3🍥
Materi Kelas Bunda Sayang Level ke-2: *Kemandirian usia 15 tahun keatas*
Rabu, 13 Desember 2017

🌸Kemandirian usia 15 tahun keatas🌸
Memasuki usia baligh tantangannya adalah mempersiapkan diri menjadi bagian dari peran peradaban kehidupan. Di usia ini harapannya anak – anak sudah bisa menemukan dan mengembangkan potensi yang di miliki nya serta telah menemukan visi dn misi dalam kehidupannya.

Sebelum memasuki jenjang pernikahan hal yang terpenting adalah mempersiapkan jelas visi pernikahan sejak awal.

Selain itu sebagai calon orangtua di masa depan seseorang harus mampu survive di dunia dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam kehidupan pernikahan. Karena itu setiap kita di tuntut untuk mempersiapkan diri. Hendaknya setiap anak yang sudah baligh bisa mandiri dalam segi finansial, psikologi/mental, fisik dan spiritual. 

Mandiri Finansial
Mandiri secara financial, Yang perlu di ingat adalah bahwa jatuh cinta itu gratis namun menikah butuh biaya. Saat usia 15 tahun keatas diharapkan anak sudah paham bahwa bukan tugas orang tua untuk mengkhawatirkan rizqi, dan tugas orang tua adalah menyiapkan jawaban "dari mana” dan  “untuk apa” atas tiap karunia, Ikhtiar adalah bagian dari ibadah sedangkan rizqi itu urusan Allah.  jadi sesuai dengan fitrahnya di usia akil baligh seorang anak sudah menemukan dan mengembangkan potensi diri anak tersebut. Jika hal ini berhasil maka di usia ini anak – anak bisa mandiri secara financial. Mandiri financial bisa diartikan memiliki pekerjaan atau dapat mengembangkan potensi dan berinovasi sesuai dengan kesukaannya  sehingga mendatangkan keuntungan. Setelah memiliki sebuah pekerjaan maka rajin – rajinlah menabung dan berinvestasi

Mempersiapkan menjadi orang tua yang mandiri
Perbanyak pengetahuan dengan membaca atau mengikuti kegiatan parenting, melatih diri untuk mandiri dalam mengerjakan urusan domestic rumah tangga. Dalam konsep pendidikan berbasis fitrah tahap kemandirian anak sudah selesai pada pre Aqil baligh sehingga di usia 15 tahun keatas tugas orang tua adalah memperkaya anak – anak dengan kegiatan yang menyenangkan serta mengajarkan bahwa apa yang sudah di pilih maka wajib untuk diselesaikan. Jika hal ini telah dilakukan di dalam kehidupan pernikahan maka tanggung jawab akan sebuah pilihan akan dituntaskan apa pun resiko nya.

Persiapan Fisik
Untuk wanita perkaya diri dengan ilmu tentang kehamilan, persalinan dan masa – masa nifas serta perawatan bayi. Perbanyak pengetahuan tentang konsep mendidik anak. Sehingga nanti nya dapat menyelesaikan secara mandiri permasalahan atau perubahan yang terjadi di masa – masa kehamilan dan  saat- saat menyambut kelahiran anak.

Bagi laki-laki persiapan fisik amatlah penting karena berkaitan dengan kualitas sperma yang di produksi. 
Selain itu, sebagai kepala keluarga, laki-laki selain mencari nafkah, Ia juga harus dapat membantu pekerjaan Istri dalam menyelesaikan aktivitas rumah tangga. Sehingga fisik yang prima sangat diperlukan. 

Menjaga kesehatan fisik dapat dilakukan dengan cara menjaga kebiasaan hidup sehat, pola makan sehat, dan pergaulan yang sehat

Persiapan Mental
Persiapan mental sangat dperlukan, karena setelah menikah permasalahan akan lebih kompleks. Melatih mental untuk lebih sabar, tidak mudah menyerah, mengubah sudut pandang masalah menjadi tantangan, menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Bila mental sudah kuat permasalahan yang timbul di kehidupan pernikahan dapat diatasi bersama pasangan tanpa melibatkan orang lain.

Persiapan Spiritual
Bekali diri dengan ilmu agama yang cukup, bagi anak laki – laki persiapkan bahwa mereka kelak menjadi kepala keluarga dan wanita akan menjadi ibu yang mana adalah madrasah pertama bagi anak – anak nya. Sebelum menikah peningkatan kualitas diri dan kualitas ibadah mutlak diperlukan. Berdoa kepada Allah untuk mendapatkan suami yang sholih dan anak-anak yang akan menjadi penyejuk mata

Mengutip dari kata – kata Ibu Septi
"jika  semakin dini kita persiapkan pendidikan berbasis potensi dan akhlak kepada anak – anak kita, maka semakin cepat anak – anak _“terpanggil” dalam menunaikan ibadah syar`i  termasuk di antara nya menikah di usia muda. Karena prinsipnya bukan orang yang “mampu”  yang akan di panggil oleh Allah SWT, melainkan Allah akan “memampukan" orang yang terpanggil"_ 

Referensi :
  1. Tehnik Pendidikan Anak Post Aqil Baligh 15 th Keatas oleh ibu Septi Peni Wulandari dalam Kompilasi Resume 10 materi pokok HEbAT community.
  2. http://www.konsultasislam.com/2010/01/persiapan-pra-nikah.html_
  3. https://blognyakeluargasakinah.blogspot.co.id/2016/10/5-poin-persiapan-sebelum-menikah-untuk-laki-laki.html?m
  4. Indra Permana. (2016).Wujudkan Rumahh Tangga Impianmu.Yogyakarta.DIVAPress

Tuesday, December 12, 2017

"Kemandirian Dalam Memilih Apa Yang Diinginkan"

Agatha minta izin kepada saya hari ini, (hmm.. ga pake kata-kata izin sih..heheh..) cuma bilang.. "ma.. aku ga mau pergi ngaji ya hari ini, aku pusing," saya ga tau dia beneran pusing apa engga, tapi saya mengiyakan "ya sudah kalau mau dirumah ajah.. tapi kalau di tanya Papa, kamu harus bisa jawab sendiri ya, ga boleh minta tolong mama buat bantuin jawab ya" begitu kataku. Dia cuma diam saja. Saya ga tau pemakluman seperti ini apakah baik atau tidak, namun saya cukup mengerti akan keadaan Agatha, setiap hari melewati 48km PP itu, benar-benar sebuah perjuangan yang tidak mudah dilakukan oleh anak seusia dia. Mungkin dia sedang penat, atau boring. Jadi saya pikir memberikan dispensasi sekali-kali untuk tidak pergi mengaji bukan bentuk sebuah kemanjaan. Yang penting dia bisa tetap beraktivitas dirumah. 
Setoran Gambar ke-1 dan Setoran Gambar hari ke-2
Setelah menyetujui keinginannya, saya tanyakan padanya, "kalau Agatha tidak mau pergi mengaji, hal apa yang ingin Agatha lakukan untuk mengganti aktivitas mengaji hari ini?" Dia menjawab "dengerin murottal diva ajah ma" (ada serial Diva di Youtube yang salah satunya adalah murottal surat-surat pendek) dan menggambar juga katanya. "Oh ok lanjutku..sepakat!"
Jadilah sejak pagi saya menyalakan Youtube yang connect ke TV agar dia bisa mendengarkan murottal meskipun sambil mondar-mandir sana sini. Lalu kegiatan siang di lanjutkan dengan menggambar. Dalam satu minggu ini saya punya tantangan untuk Agatha. Tantangannya adalah setor hasil gambar nya selama 5 hari. Bebas mau menggambar apa saja. Sejak kemarin dia sudah melakukan itu. Dan dia cukup happy dengan tantangan ini. Jika kemandirian di artikan sebagai cara seseorang untuk bertindak bebas, benar, dan bermanfaat; berusaha melakukan segala sesuatu dengan jujur dan benar atas dorongan dirinya sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, saya pikir hari ini Agatha memilih apa yang dia inginkan tanpa intervensi dari saya. Dan siap dengan konsekuensinya. Dia memilih tidak pergi mengaji, dia memilih untuk mendengarkan Murottal dan memilih menggambar dirumah saja. Bagi saya dia sedang belajar mengatur dirinya sendiri sebagai salah satu tahap kemandiriannya.

Dan hari ini ditutup dengan tidy up his toys, dia membantu saya merapikan Hot Wheels nya. Oke, selamat istirahat Agatha, semoga besok semangat pergi mengaji lagi ya.. Ganbatteeeee!

#Hari13
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Monday, December 11, 2017

"Karena Hasil Tidak Akan Mengkhianati Proses"

Senin datang, dan kami menyambut dengan suka cita, 3 hari sejak Jumat, Sabtu dan Minggu, level kemandirian Agatha semakin meningkat, tentunya untuk beberapa hal masih harus di ingatkan ya haha.. Meskipun beberapa tantangan kemandirian dilakukan berulang, tapi saya selalu mencatat progress nya dan melaporkan ke Bapak suami. Sekarang, tiap Agatha menginginkan sesuatu saya selalu mengingatkan, agar dia mampu lakukan sendiri dulu, sisanya baru saya bantu. Tetapi bila dia sudah berusaha tapi masih ada kendala karena sesuatu, maka saya siap memberikan bantuan 
Pagi ini Agatha bangun langsung menuju ke meja dekat TV dan menggambar, saya tanya, apa mau sarapan sekarang, dia menjawab nanti saja, "aku mau menggambar dulu.." selama dia menggambar saya menyiapkan bekal nya untuk ke sekolah mengaji. Lalu saya tinggal untuk mandi, dia bermain sendiri sambil mendengarkan murotal dari Youtube yang disambungkan ke TV. Saya selesai berpakaian dan dia pindah duduk ke meja belajar dan melanjutkan menggambar disana. Lalu berpindah lagi ke lantai, hingga saya selesai bersiap-siap dan kami pun berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan pun di MRT dia tetap tenang, konsisten menggambar dan fokus. Setelah tiba di MRT dekat sekolah mengajinya, dia meminta saya untuk dibelikan Oreo "Ma.. aku laper nih, boleh beli Oreo ga?" Saya menjawab "Mama rasa Roti lebih baik ya tha..." dan dia setuju. Lalu saya menyuruh dia memilih dan mengambil 2 buah roti yang dia suka, dan memberikan uang untuk membayar roti tersebut. Dan dia melakukannya dengan senang hati. Selesai menerima roti lalu mengucapkan terimakasih. Dia katakan "aku mau duduk ma.. mau makan roti dulu".. Oke Jawabku, "kita cari tempat duduk ya..." Untuk sampai ke tempat duduk kami harus menyebrangi jalan dan berjalan sejauh 200m. Sepanjang jalan itu dia meminta rotinya, dengan alasan "aku laper nih ma.." Saya jawab "sabar' dikit lagi.. hingga sampai ke tempat duduk dan dia akhirnya makan roti juga.. Melatih kesabaran dan emosinya itu gampang-gampang susah, namun saya harus belajar konsisten pula menerapkan ini, bahwa makan ya harus duduk, minum tidak boleh sambil jalan. 
Setelah roti habis, kami melanjutkan perjalanan ke sekolah mengaji. Alhamdulillah tantangan kemandirian ini sangat membantu saya dan menahan ego saya untuk tidak cepat mengiyakan, memberikan bantuan, dan memanjakan Agatha.. harus senantiasa bersabar bila dia sedikit lama melakukan  aktivitas-aktivitasnya. Harus bersabar bila dia masih suka tidak konsisten, ntah karena merajuk bila sedang bad mood, atau memaksa minta dibantu tiap menemukan kesulitan. Saya mengibaratkan kesabaran dalam melatih kemandirian ini sama hal nya seperti kita yang sedang berdoa. Seperti sebuah Quotes yang pernah saya baca. "Mengulang-ulang Doa itu seperti mengayuh sepeda, suatu saat pasti samapi di tujuan".  Begitu juga dengan melatih kemandirian, tidak bisa instant, tidak bisa semudah membalik kan telapak tangan. Butuh proses yang berulang. butuh pengingat dan semangat. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. In shaa Allah segala proses menuju nilai-nilai kebaikan tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Saya dan Agatha masih sama-sama terus belajar dan berjuang😊😊😊

#Hari12
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Pertukaran Pelajar Ke-1: "Komunikasi Produktif" - Wilayah Sumatra 2

Bismillahirrahmanirrahim...
Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya, bisa mengikuti acara pertukaran pelajar ini. Pertukaran Pelajar pertama saya malam ini, menerbangkan saya ke wilayah Sumatra 2. Alhamdulillah hari ini saya dapat bertemu dan berbagi dengan Bunda-bunda hebat, Bunda-bunda pembelajar dari kelas Bunda Sayang wilayah Sumatra 2 ini. Sambutan mereka dan obrolan-obrolan kami mengalir dengan lancar dan penuh kehangatan.
In shaa Allah tanda cinta dari mereka semakin membuat saya termotivasi melakukan yang terbaik bagi diri pribadi, keluarga dan komunitas. menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Amin

#InstitutIbuProfesional
#IbuProfesional
#KelasBundaSayang
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif
#Tantangan10Hari
#PertukaranPelajar
#OutstandingPerformance

Sunday, December 10, 2017

""Jejak kemandirian Agatha hari ini"

Hari ini saya ga bakal cerita panjang-panjang.. saya hanya mencatat dan mendokumentasikan kemandirian apa saja yang sudah Agatha lakukan hari ini menurut versi emaknya. hehehe..
Dimulai dari pagi hari. Hari ini adalah Gadget time for Agatha.. Sejak bangun tidur pertanyaan yang dia lontarkan adalah "this sunday ya ma...?".  "Yes" jawabku.. "So can i borrow the iPad ma?" Iya "silahkan"  kataku lagi.. Bergegas dia bangun dari tempat tidur dan mengambil iPad... Namun acara melihat iPad nya tidak berlangsung lama (tumben, hehehe..) lalu dia meminta sarapan chicken nuggets, dan menghabiskan nya dengan cepat. Lanjut lagi setelah makan dia bilang kepengen mandi. Tanpa ngoceh minta dibukakan baju, dia segera membuka bajunya sendiri.. lalu bergegas masuk kamar mandi. Ohhh ternyata itu alasannya dia minta mandi... Ternyata dia memboyong serta beberapa hotwheels nya... Dan asik story telling dengan mobil-mobilannya. 😬😬. Tapi tak apalah.. selama itu tidak berlama-lama dan menghambur-hamburkan air, saya izinkan dia berimajinasi dikamar mandi... hehehe... 
Setelah mandi kami pergi ke Orchard (lagi...?? hehehe..). Di  dalam MRT menuju Orchard kami tidak mendapatkan seat, jadi kami bertiga harus berdiri, Alhamdulillah Agatha tidak rewel.. Setelah setengah perjalanan kami di MRT, akhirnya saya mendapatkan tempat duduk dan saya segera mengajak Agatha untuk duduk bersama saya. Oh ya kebetulan saat itu kami duduk bersebelahan dengan Bapak-bapak Chinese yang sedang memangku anak laki-laki-nya. Saya rasa dia seusia Agatha. Agatha sangat senang karena sisa perjalanan nya menuju Orchard bisa ngobrol dan bercanda dengan anak lelaki tadi. Agatha mengatakan kepada saya, "Agatha make a friendship with kakak ma...". Saya mengangguk-kan kepala dan tersenyum. Dan Agatha meminta saya  untuk mengambil gambar dengan teman barunya ini. Kami berpisah di Orchard MRT. Agatha bilang "i'm happy make a friendship with him.." Sudah dadah-dadah.. ternyata Agatha baru ingat bahwa dia belum tahu nama teman barunya tadi.. Kemudian dari jarak jauh dia berteriak lagi.. Hallo-hallowww... who is your name?" Sayangnya anak itu sudah tidak mendengarkan suara Agatha lagi.. hehe.. Ya sudahlah nak, semoga nanti bisa ketemu lagi hehehe...
Di Orchard pun dia menghabiskan makan malam nya, dan bersedia menunggu dengan sabar (sambil menggambar) sampai saya dan suami pun menyelesaikan makan dan ikut sholat magrib bersama saya lagi di Al Falah.  Di eskalator pun dia tertib berdiri dengan tenang tanpa mencari-cari saya yang berdiri dibelakang nya. Selesai sholat kami pergi ke H&M Store untuk melihat-lihat.. Wow sedang banyak sale disana, saya rasa ini sale menyambut Christmas hehehe.. Ternyata suami menyuruh Agatha untuk membeli satu setel baju yang dia sukai. Dan Agatha segera memilih baju yang dia inginkan. Saya membantu mencarikan ukuran yang cocok untuk dia.. Dalam 2 hari ini Bapak suami baik sekali.. (biasanya juga baik sihh hahaha..) Setelah membelikan Gundam, hari ini Dia mengizinkan Agatha membeli baju.. Semoga murah rejekinya terus ya Bapak suami. 😃😃😃 Saking senangnya Agatha meminta ijin untuk mengantre dikasir dan saya memberikan uangnya. Dia katakan " This is my baju, so i want to queuing ma.." Kebahagiaan nya hari ini belum selesai janji bertemu Asmaradhana di Jumat kemarin terpenuhi, karena Asmara menuju ke H&M juga.. Agatha luar bisa senang.. dari jauh ketika Asmara datang dia langsung berlari dan berteriak memanggil nama Asmara.. Lalu mengajak Asmara berbicara dan menghibur asmara.. meskipun asmara sendiri cuma bengong dan diam saja.😂😂😂Agatha seolah memposisikan  dirinya sebagai Kakak bagi Asmara. Salah satunya dengan memanggil Asmara dengan panggilan "Adik Asmara.." hehehe..
Alhamdulilah meski ga setiap hari moment kemandirian ini berjalan dengan mulus.. namun saya pribadi patut bersyukur atas segala kemudahan-kemudahan yang di berikan kepada saya dalam melatih kemandirian Agatha, yang sebagian tidak perlu lagi saya ingatkan dan berikan kultum dulu hahahaha.. Dia sudah miliki insting kemandirian itu tanpa saya, suami dan Agatha sendiri menyadarinya. Terimakasih ya nak..

*Note: Mohon maaf nih ya.. tadi bilangnya ga bakal cerita panjang-panjang, tapi ternyata jadinya masih tetep nulis panjang juga hahahaha.. Ya begitulah, semua anak itu memang sumber inspirasi, ya gak mamak-mamak ☺️

#Hari11
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Saturday, December 09, 2017

"Man Shabara Zhafira"

Menyambung cerita kemarin malam,  ketika Agatha pergi ke Toy R Us, ternyata Bapaknya diam-diam membeli Gundam, untuk bisa dirangkai bersama-sama Agatha di hari Sabtu. Memang perjanjiannya hari itu Agatha belum mendapat jatah membeli mainan. Karena mainan dirumah masih sangat banyak. Dan semalam Agatha bersikap sangat baik sekali, sehingga suami mengatakan "Aku rasa dia akan happy bila kita membeli mainan ini untuk di mainkan bersama-sama. Lagipula hari ini Agatha menunjukkan sikap yang baik." Saya setuju.. Saya merasa memang tidak ada salahnya memberikan anak reward atas sikap-sikap baik yang sudah berusaha mereka lakukan. Meskipun selama mendidik Agatha saya tidak pernah menyiapkan bintang ★★★★sebagai tanda Agatha mampu bersikap terpuji setiap harinya. Apalagi menjanjikan sesuatu dalam bentuk gift bila dia berbuat baik. Ya, beda orang tua, beda pula cara pengasuhannya. Ketika Agatha berbuat baik, saya akan memberikan pujian dengan sungguh-sungguh. Memberikan pelukan dan ciuman kasih sayang. Dan meski kadang si bocah menguji kesabaran saya, tapi sebelum tidur saya selalu memeluk dan menciumnya, serta meminta maaf atas sikap saya kepadanya di setiap hari nya. 
Bangun tidur Agatha langsung menuju sofa, dan sangat surpraise ketika melihat ada Robot yang masih terbungkus plastik.  "Pa.. u buy this Robot for me??.. Suami menjawab: "for us Agatha.. we can assemble together ya... " Tapi Agatha sarapan dulu, setelah makan siang dan Papa selesai sholat Dzuhur, kita bisa rangkai bersama-sama. Setelah mereka sholat Dzuhur, Bapak suami dan Agatha mulai bersiap merangkai. Mereka berdua sangat serius, Sesekali tertawa, sesekali berdebat, si Bapak sedang serius melihat petunjuk, dan si anak sudah ga sabar ingin menggunting material Gundam-nya. Dan saya hanya melihat dari meja makan sambil tertawa. Agatha ikut sibuk ketika Bapaknya mencari-cari nomor mana yang harus dirangkai duluan. Dan Agatha dengan sigap membantu ketika Bapaknya meminta tolong menggunting. Dorongan  untuk melakukan sesuatu atas keinginan diri sendiri seperti ini merupakan satu sikap  mandiri yang sedang berusaha Agatha lakukan. Dia mengajukan dirinya sebagai asisten yang siap siaga bagi si Bapak.. Dengan melatih sikap mandiri seperti ini, secara tidak langsung Agatha belajar lebih sabar. Merangkai/merakit Gundam bukan lah hal mudah yang sekali pegang langsung jadi. Mereka harus merakitnya dengan ekstra teliti dan juga sabar karena merakit Gundam ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar bergantung dari versi masing-masing Gundam yang sedang dirakit. Selama menanti hasil rakitan selesai, Agatha sangat sabar, sesekali mengoceh dan bermain dengan mandiri di samping Bapaknya.
Dan Alhamdulillah setelah hampir 3 jam Gundam yang dinanti telah selesai dirakit. Agatha sangat excited.. dan memamerkan hasilnya kepada saya. ".
Ma.. see, we have finished assemble Gundam, The Gundam so awsome ma" tambahnya. Satu hal lagi poin yang saya dapat dari kisah merakit Gundam hari ini. Merujuk cerita kemarin ketika Agatha bersikap sangat baik sekali, happy sepanjang perjalanan di Orchard, bersedia solat di Masjid, menghabiskan makan malam dengan menyuapkan sendiri, tidak merengek meminta dibelikan mainan dan terakhir masih berpikir untuk membelikan mainan kepada Asmaradhana, meskipun dia sendiri tidak mendapatkan apa-apa untuk dirinya sendiri. "Man Shabara Zhafira" Siapa yang bersabar akan beruntung. Karena kesabaran dan kemandiriannya dalam bersikaplah, Bapaknya malah memberikan reward yang tidak dia duga-duga sebelumnya. Alhamdulillah ya tha.. So lucky you..

#Hari10
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

"Mengapa saya harus menjadi FASILITATOR?"

Menguraikan segala poin-poin pada tulisan ini, seperti memflashback dan merangkum kembali  hasil dari diskusi-diskusi panjang dikelas TfFM yang sudah saya lewati dalam waktu-waktu padat hari-hari saya sambil tetap menjalankan peran utama saya sebagai seorang Ibu dan Istri.
📌Pemahaman akan fungsi Fasilitasi
Fasilitasi dapat dijelaskan dengan banyak cara. Fasilitasi saya coba terjemahkan kedalam sebuah kalimat  memfasilitasi yaitu memungkinkan atau menjadikan sesuatu lebih mudah. Atau bisa saja fasilitasi di artikan sebagai bentuk dorongan terhadap seorang fasilitator dengan cara duduk bersama, berkumpul bersama, saling mendengarkan satu sama lain, dan menanggapi kebutuhan-kebutuhan mereka-mereka yang sedang di fasilitasi tersebut. Memfasilitasi juga bisa sebagai bentuk dukungan terhadap individu, komunitas atau sebuah organisasi melalui proses-proses kontribusinya terhadap komunitas atau organisasi tersebut.
Sedangkan fasilitator dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah /fa·si·li·ta·tor/ n orang yang menyediakan fasilitas; penyedia. Kenapa disebut fasilitator? kenapa bukan trainer? mentor atau guru? atau pembimbing? Fasilitator berfungsi tidak hanya sebagai trainer, tidak hanya menyiapkan materi saja, atau  menata cara belajar, tapi fasilitator membantu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda, interaktif (yang dapat membuat suasana berjalan hangat, karena adanya keterlibatan seluruh anggota kelas didalamnya), dan perannya sesuai yang dibutuhkan anggota kelasnya, fasilitator juga bertugas sebagai mediator/penengah untuk mengembalikan topic pembicaraan ke jalur yang benar sampai kepada bertugas mengevaluasi peserta dan proses pelatihan yang sedang berlangsung.

📌Kesiapan diri
Hampir 3 Minggu saya berada dikelas TfFM (Training for Fasilitator Matriculation) Institut Ibu Profesional. Selama 3 Minggu ini pula kami di training sebagai calon fasilitator. Belajar bersama dari kami dan untuk kami. Ini sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya pribadi.
Sejujurnya ketika mendapatkan tawaran dari korwil untuk ambil bagian sebagai Fasilitator kelas matrikulasi ini, saya berfikir 2x... Yang saya lakukan pertama adalah berdiskusi dengan Korwil kami.. "Menurut teteh  (panggilan saya ke korwil) kelebihan apa yang bisa teteh lihat, yang membuat saya mampu menjalankan peran ini?" begitu tanya saya waktu itu. Lalu beliau menjawab: "Saya melihat saya di diri kamu, kamu itu seperti saya.." Kamu pasti mampu..". Jawaban itu berusaha saya cerna baik-baik. Kemudian mencari waktu lain untuk mendiskusikan nya lagi dengan suami. Karena keputusan ini berarti akan mengurangi sedikit waktu saya bersama Agatha, untuk lebih fokus dalam menjalani training maupun kelak apabila saya lulus dalam training ini dan melanjutkan tugas saya menjadi fasilitator. Suami kembalikan kepada saya, "dirimu paling mengenal siapa kamu sebenarnya dibandingkan orang lain.. lebih memahami apa yang pantas kamu lakukan, lebih tahu apa yang membuat kamu bahagia. Aku support asal tidak melalaikan tanggung jawab mu dirumah". Begitu nasihat sang suami.
Jawaban ini menerbitkan tambahan energi keberanian bagi saya untuk melaju terus kedepan, menerima tantangan ini. Bismillah..
Saya ingat suatu ketika saya pernah bertanya kepada Ibu Septi ketika beliau mengisi 30 menit lebih dekat dikelas kami waktu itu dan saya masih berada di kelas matrikulasi. 
"Ibu Septi yang saya hormati. Didalam mengikuti IIP ini segala hal yang sudah kita buat, kerjakan dan deskripsikan demi pengembangan diri, mungkin tidak bisa 100% terlaksana dikarenakan keterbatasan waktu, pikiran, tenaga, bagaimana pendapat Ibu, apakah harapan-harapan dan upaya-upaya yang sudah saya buat dan lakukan dari NHW 1-9 kemaren akan dianggap menjadi tidak maksimal karena tidak (belum) mampu diwujudkan 100% dalam keseharian saya.
Jawaban Ibu Septi : Matrikulasi ini adalah tahap awal kita melatih konsistensi dan komitmen kita sebagai ibu. Kita mau belajar dan bertanggungjawab mengerjakan NHW saja itu sdh point tersendiri. Nanti ketika masuk kelas bunda sayang-cekatan, saatnya kita mengamalkan apa yg kita tulis di matrikulasi ini satu persatu. Karena durasi per kelas adalah 1 tahun.

Kenapa saya mengajukan pertanyaan seperti ini? Karena perjalanan di IIP masih lah sangat panjang, jika apa yang saya pribadi lakukan dan harapakan ketika menuangkan segala hal di dalam IIP tidak mampu atau belum mampu saya terapkan dan amalkan semuanya kedalam kehidupan sehari-hari. Maka ini adalah sebuah kemunduran bagi saya pribadi, karena berbeda antara kata dan realita.

Jundub bin Abdillah Al-Bajali mengatakan, “gambaran yang tepat untuk orang yang menasihati orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah laksana lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi sekelilingnya.” (Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih,1/195)

Apalagi kelak bila saya mengambil peran sebagai seorang fasilitator ini. Ini sebuah tugas yang cukup berat. Namun saya menemukan sebuah perkataan Ibu Septi ini yang saya tuliskan kembali. Kalimat-kalimat dibawah ini cukup menenangkan dan semakin mematangkan niat awal saya untuk bersiap melebur bersama menjadi bagian dari tim fasilitator di batch #5 nanti, in shaa Allah
📌Pandangan tentang kedudukan fasilitator di komunitas IIP
Dalam pandangan saya tentang kedudukan fasilitator di IIP ini adalah seperti berbagai hal yang sudah saya dapatkan dari hasil diskusi panjang selama menjalani kelas training fasilitator bersama rekan-rekan saya dan duo fasilitator kami yang cerdas. Pandangan saya menyimpulkan bahwa kedudukan seorang fasilitator adalah hadir sebagai teman belajar (artinya didalam kelas), kami semua akan belajar bersama-sama. Fasilitator mempunyai hak prerogatif tersendiri namun prinsip yang harus dipegang sama, yaitu SEMUA GURU, SEMUA MURID. Terjalinnya komunikasi dua arah dimana semua akan berproses learn how to learn. Prinsip ini pula yang diterapkan fasil saya ketika saya berada dikelas matrikulasi dulu. Sehingga suatu hari nanti dengan begini tidak ada beban pikiran bagi seorang fasilitator untuk mati-matian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir kelak. Justru salah satu yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator dalah kemampuan menggali intellectual curiosity para anggota kelas yang nantinya juga akan sangat membantu tugas seorang fasilitator.

📌Rencana dan strategi dalam memfasilitasi kelas
Dalam hidup kita, pasti sudah ada rencana, baik itu kita rencanakan pertahun, perbulan, perminggu, bahkan rencana-rencana apa yang akan kita lakukan esok hari. Bila saya diperkenankan dan dipercayakan menjadi seorang fasilitator, rencana dan strategi awal saya adalah membuat kelas senyaman mungkin, dengan cara melibatkan empati pada porsi yang tepat serta menjadi kan diri saya tempat bernaung semua member kelas. Dengan cara melakukan pengamatan dan pendekatan personal ke semua member kelas. Membuat kelas tidak kaku, mampu melebur dan mengikuti suasana kelas tanpa kehilangan hak-hak prerogatif sebagai seorang fasilitator. Dengan cara melempar topik-topik ringan disela-sela waktu luang member kelas. Dan meminta mereka untuk menanggapi nya. Lalu memancing member kelas untuk membuka diri dengan cara memperkenalkan dirinya masing-masing, sehingga kelas akan tetap hangat dan hidup. Karena kelas yang kaku dan fasilitator yang tidak banyak bicara dan jaim menjadikan kelas semakin dingin. Antara member dan fasil seperti ada jarak. Ini lah yang menurut saya harus dirubah kelak.

📌Kekhawatiran menjadi Fasilitator
Dalam menjalani peran apapun di dunia ini tentu sebagai manusia biasa saya harus menyiapkan segala hal, seperti pepatah yang saya tuliskan ulang dibawah ini.
 “Berharap untuk yang terbaik, menyiapkan untuk yang terburuk”. Kekhawatiran tentulah ada dan wajar adanya, dan itu terjadi di awal-awal ketika berada dikelas training fasilitator ini. Seperti bagaimana menjawab pertanyaan yang masuk dan bagaimana menjaga suasana kelas agar terhindar dari mereka-mereka yang disebut Silent Reader (SR). Namun semua nya dapat terjawab seiring diskusi-diskusi yang intens kami lakukan sampai kepada pemaparan berbagai materi yang sudah kami diskusikan di dikelas training fasilitator ini. Dan diskusi-diskusi ini seolah memberikan saya gambaran dan hal-hal apa saja yang akan saya lakukan jika kekhawatiran itu kelak terjadi

📌Penilaian akan proses adaptasi, serta keterlibatan diri dalam kelas TfFM
Sejauh mengikuti kelas TfFM ini sejak awal saya berusaha mengikuti penyesuaian dengan fasil dan semua rekan-rekan saya yang luar biasa. Sebagai newbie calon  fasilitator dalam komunitas IIP, Saya mengikuti segala pembelajaran dengan bersungguh-sungguh. Berusaha konsisten dan disiplin dalam mengikuti semua materi yang sudah rekan-rekan saya sajikan dengan penuh upaya dan semangat.  Saya pun berusaha ikut berdiskusi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap berbagai materi yang disajikan. Dan juga menjalankan tugas aspiratif dan administratif dalam bentuk memberikan evaluasi sebagai apresiasi dan parameter untuk kinerja dimasa depan. Saya juga mengamati bagaimana cara mereka menjelaskan, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, memperkaya pembahasan dalam sebuah materi, membaur satu sama lain, membangun interaksi, memberi komentar terhadap diskusi, menguasai dinamika kelas, membangun semangat satu sama lain, saling suppport, saling menghargai dan saling memahami. Sehingga dalam menjalani kelas TfFM selama ini kami diajak seperti Learning Live Together. Dan sekali lagi ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Terimakasih kepada semua rekan-rekan calon fasilitator dan kedua fasilitator hebat saya.

Demikian uraian saya, mohon maaf apabila dalam menjalani peran saya sebagai member TfFM selama ini terdapat kesalahan sikap, kata dan perbuatan baik sengaja maupun tidak disengaja. In shaa Allah dalam perjalanan untuk menjadi fasilitator ini, akan semakin berkembangnya skill pribadi saya, tentu dengan adanya pemahaman-pemahaman dalam memantaskan diri seiring proses yang akan dilalui kelak. Semoga Allah menjauhkan saya dari rasa ujub dan sikap-sikap tercela. Semoga saya kelak tidak hanya mampu menjadi fasilitator bagi orang lain namun terus berusaha menjadi fasilitator terbaik bagi keluarga saya sendiri.
Fokus pada niat awal, pada goal yang telah ditetapkan, mengikat setiap langkah dengan fondasi dasar yaitu berbagi dan melayani. Bismillahirrahmanirrahim, in shaa Allah saya siap mengemban amanah ini.

Sumber:
1. http://kbbi.co.id/arti-kata/fasilitator
2. https://muslim.or.id/600-antara-kata-dan-perbuatan.html
3. Hasil Diskusi dan Materi Matrikulasi selama kelas Training Matrikulasi 2017