Monday, April 16, 2018

Review Tantangan 10 Hari | Materi Bunda Sayang #6: "Menstimulasi Kecerdasan Matematis Logis"

Review Tantangan 10 Hari
Materi Bunda Sayang #6: MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS
Kelas Bunda Sayang #3 - Institut Ibu Profesional

๐Ÿ“š MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS ๐Ÿ“š

Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak. Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa "matematika" itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita  menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:
a. Berpikir logis
b. Berpikir Kritis
c. Memecahkan masalah secara sistematis
d. Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran
e. Menarik kesimpulan secara deduktif  (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)

Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidak terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus,  karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.

Contoh :
Studi Kasus :
Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian

Solusi:
Maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya

Kegiatan :
Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut,  apoteker menuliskannya adalah 3 x 1
"Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini?"
Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit:
pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul

Stimulus  : Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya
" Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1? "

Kegiatan :
Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi

Kegiatan bermain:
a. Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau  6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil
b. Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik
c. Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri
d. Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar
" Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1"
Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil
"Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak? "
Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab
" 1 x 3"
e. Ibu memberikan tantangan baru
" Sekarang kita coba buat perkalian 3x2, yuk "

Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak. Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.

Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :

a. Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita  ( Guided Reinvention). Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran  matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali ( re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika
b.  Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum,  tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibu kepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar
c. Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa  mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak  untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya

Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka  yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.

Salam Ibu Profesional,

/ Tim Fasilitator Bunda Sayang /

๐Ÿ“šSumber Bacaan:

Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente

Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta

0 comments:

Post a Comment