Friday, November 24, 2017

Membangun Komunitas, Membangun Peradaban

NICE HOMEWORK #10 - MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN
Institut Ibu Profesional 
Program Matrikulasi Koordinator Batch #5

Prolog
Siapa bilang hanya perempuan karir yang mesti profesional bekerja? Seorang ibu rumah tangga juga bisa. Malah harus. Institut Ibu Profesional dibentuk untuk menjadi laboratorium pencetak para ibu pilar keluarga yang tangguh.
Kalimat Pembuka yang pernah saya baca pada media Online Jawa Pos ini, benar-benar membuka pikiran saya, mengetuk hati saya. Saya yang selama ini merasa ingin terus berkarir dan menjadi seorang wanita karir profesional, yang menurut saya tentu memiliki prestige yang lebih keren dari sekedar seorang Ibu Rumah Tangga, akhirnya berubah pikiran.
Saya yang dulu sangat menikmati status sebagai seorang "wanita karir". Menggunakan pakaian kerja yang rapi, wangi, high hells minimal 5cm, bertemu klien, menghadiri rapat-rapat penting, menjadi bagian dari pembuat agreement-agreement perusahaan, menjadi bagian tim yang diandalkan perusahaan dan tentu nya yang paling penting saya mampu mempunyai penghasilan sendiri.  Hal-hal seperti itu jelas memberi kepuasan bagi saya sebagai seorang perempuan aktif yang senang berkumpul dan berkomunikasi. Saya seperti mendapatkan penyaluran energi dengan adanya aktivitas melalui pekerjaan ini.
Tapi jalan hidup berkata lain, setelah menikah mertua berpesan agar saya harus mendampingi suami kemanapun suami berada. Awalnya ini sulit. Saya berusaha membuang jauh-jauh ego saya dengan menanamkan pemikiran bahwa uang dan pekerjaan  tidak lagi menjadi satu-satunya yang saya inginkan. Menikah harus mengubah mindset saya. Berganti dengan ketundukan dan ketaaatan atas niat suci pernikahan dalam menjalani biduk rumah tangga dengan posisi saya sebagai seorang istri yang sudah mempunyai nahkoda baru yaitu suami.
Sekali lagi saya katakan ini adalah awal yang berat, saya menjalani pekerjaan saya selama hampir 6 tahun sejak lulus kuliah, saya menikmati mempunyai uang, relasi, lingkaran pertemanan yang luas, lalu tiba-tiba saya harus resign dan pindah negara. Membuat saya seperti harus menata kembali pikiran, saya seperti dipaksa "pensiun dini". Sungguh itu adalah hari-hari yang tidak menyenangkan. Tak lama setelah masa pengunduran diri dan kepindahan saya ke Singapura, kami diberi amanah atas kehamilan pertama saya setelah menunggu 1 tahun masa pernikahan kami. Ketika itu saya merasa mungkin ini salah satu hikmah yang Allah berikan dibalik perasaan "kecewa" itu.
Siapa yang tidak kenal Ibu Septi Peni Wulandani? Wahhh jangan bilang gaul kalau belum kenal beliau. Pengagas Ibu Profesional yang penuh prestasi, yang sudah melahirkan ribuan Ibu-ibu pembelajar dari berbagai dunia. Seperti yang Ibu Septi bilang, peran Ibu sama pentingnya dengan peran yang lain. Dan dalam menjalankan peran itu, kita juga butuh Ilmu. Siapa bilang Ibu rumah tangga hanya pakai daster? Ibu rumah tangga-pun bisa berpakaian rapi layaknya wanita kantoran lainnya. Nah keren kan?? (buru-buru ngintip lemari, "baju kerja mana ya, yang bisa gw pakai selama kerja dirumah, whehehe...").
Saya mengenal IIP ditahun 2015, diajak join, tapi saya masih ga yakin. Ga yakin sama diri saya sendiri. Pertama saya menutup akses tidak ikut komunitas apapun sejak menikah dan resign dari pekerjaan saya. Saya menghindari mengikuti komunitas sejak tahun 2010. Sejak hamil sampai melahirkan, saya hanya fokus mengasuh putera saya satu-satunya. Ditambah lagi karena putera saya mengalami speech delay, saya merasa saya gagal menjadi seorang Ibu. Bagaimana saya bisa berkomunitas dengan bahagia, sementara anak saya lebih butuh saya untuk fokus mendampinginya. Saya semakin menutup diri dengan akses luar, karena merasa minder atas diri saya sendiri. Benar-benar Tidak ada kelebihan yang bisa saya tonjolkan. Alasan kedua, saya tidak cukup bagus menulis dan miskin ide, meskipun saya mempunyai beberapa blog tulisan saya tidak cukup asyik untuk dibaca. Benar-benar blog itu hanya untuk konsumsi sendiri. 
2 tahun setelahnya, tepatnya di tahun ini, saya diajak join lagi di IIP. Kali ini gara-gara Surat Cinta. Teman saya bercerita, dia disuruh bikin surat cinta untuk suaminya. Nahhh.. penasaran lah saya dengan cerita "surat cinta" ini.. Jaman gini masih surat-suratan?? "hmmm menarik nih pikir saya.  Dalam hati, ada alasan nih buat nulis surat cinta ke suami, lalu minta Bapak suami membalas-nya (saya senyum-senyum sendiri bayangin, macam ABG alay hehehe..). Singkat cerita karena kepengen-nya saya bisa nulis surat cinta buat suami, join lah saya di Komunitas Kece ini. Masuk dikelas Internasional Batch #4 bersama Ibu-ibu hebat dari seluruh penjuru dunia. (tapi ini bener-bener satu-satunya alasan terkuat saya join di IIP lho!! Perlu banget ya saya mengumumkan ini hehehehe.."kidding")
Dan keputusan ini seperti membuka lebar-lebar mata, hati dan pikiran saya tentang sosok dan peran perempuan yang sebenarnya. Saya mengosongkan gelas,  siap belajar, menemukan diri saya kembali, saya yakin bahwa Allah memberikan saya potensi, kekuatan pikiran, memberikan saya kelebihan didalam kekurangan saya sebagai Ibu dan sebagai perempuan. Kenapa saya harus mengunderestimate diri saya sendiri. Saya harus maju, meski memulai lagi dari awal untuk mengembalikan kepercayaan diri saya. Saya sangat menikmati proses dalam materi matrikulasi, saya mengerjakan semua NHW dengan penuh kesungguhan. Restu suami adalah hal yang sangat berharga bagi saya, dia mendukung saya belajar di IIP, dia memberikan kalimat support yang luar biasa, dia mengatakan "Aku melihat kamu seperti menemukan duniamu kembali". Karena dia melihat saya sangat antusias, lebih produktif, belajar mengatasi emosi yang sebelumnya saya adalah pribadi yang meluap-luap dan tipe straight to the point. Melalui IIP ini saya belajar dan berusaha menekan semua hal-hal negatif pada diri saya. Tiap materi yang saya terima selalu saya diskusikan dengan suami, agar dia ikut memahami tantangan apa yang sedang saya jalani pada tiap Nice Home Work. 
Dikelas Matrikulasi saya sempat mengambil bagian menjadi Koordinator Mingguan ke-4, lalu di dalam Wisuda Online kelas matrikulasi saya juga mengambil bagian menjadi ketua Tim Publikasi. Kenapa saya memilih Publikasi? Men-design dan photography adalah sebuah aktivitas favorite saya. Keduanya saya pelajari otodidak. Hanya sayang, saat kuliah dulu saya tidak mengambil jurusan Design, namun terdampar di wilayah Manajemen Komunikasi. Tak jarang kadang saya katakan kepada suami, bahwa saya ingin mendalami design, ikut kursus atau kalau ada rejeki saya ingin kuliah lagi di jurusan design, terutama design grafis. (ntah kapan itu.. hehe..). Dan syukur Alhamdulillah dalam 9 Minggu mengikuti perkuliahan di Kelas Matrikulasi, fasilitator memilih saya menjadi salah satu diantara 5 siswa terbaik di kelas. Ini sebuah penghargaan bagi seseorang yang sering minder seperti saya,  terlihat kecil dan biasa, namun mampu melecut semangat saya, untuk menjadi lebih baik lagi, untuk mampu melakukan dan mengimplementasikan ilmu yang saya sudah terima selama 9 minggu ini, serta menguatkan saya untuk semakin konsisten menjalani komunitas ini.
Setelah Lulus kelas Matrikulasi, kami di arahkan untuk masuk ke member IIP ASEAN, yang saat ini korwil IIP ASEAN dipegang oleh Mba Endang Prasdianti. Dan tidak lama setelah join, beliau menghubungi saya untuk membantu beliau di kepengurusan Institut Ibu Profesional ASEAN (FYI, member IIP ASEAN ini meliputi wilayah ASIA dan Timur Tengah saja) untuk mengambil peran di Manager Offline. Tawaran pertama saya tolak dengan ucapan terimakasih atas kepercayaan beliau. Saya merasa masih anak bawang, baru saja lulus Matrikulasi serta minim ilmu. Sementara yang sudah berada dikepengurusan adalah mereka-mereka yang senior dan sudah lama berkecimpung di IIP. Tidak lama kemudian beliau menawarkan agar saya mau membantu di kepengurusan lagi. Beliau tanya, saya minatnya dimana? saya jawab. Saya masih fokus mengurus anak, jadi untuk kegiatan offline saya merasa tidak akan mampu memanej waktunya. Saya hanya siap melakukan aktivitas online dirumah bahkan dimana saja, asal selalu dekat dengan anak saya dan tetap bisa memantau dan membersemai bersama putera saya. Beliau menyetujui keinginan saya. Lalu beliau menawarkan saya untuk bergabung di posisi Manager Online bersama Mba Ita Utami. Dan baiklah akhirnya saya menyanggupi karena saya pikir ini adalah kesempatan belajar yang bagus.
Tentu ini adalah hal baru bagi saya, karena ini adalah jabatan yang belum pernah saya jalani semasa sekolah sampai kuliah. Semasa Kuliah, jabatan sekretaris lah yang paling sering saya emban.  Menjadi Manager Online awalnya saya masih meraba-raba, seperti apa lingkup tugasnya, namun saya selalu menyempatkan mengobrol dengan pengurus-pengurus senior yang lain. Menyerap ilmu dan mengamati sistem kerja mereka dengan konsep ATM. Sejak September 2017 saya mulai bertugas. Koordinator wilayah menempatkan saya membawahi IIP Foundation ASEAN, sementara Mba Ita Utami, rekan kerja saya membawahi Member IIP ASEAN. Namun kami berdua saling berkoordinasi dan memback-up tugas dan peran dikedua WAG tersebut. Mba Ita Utami adalah pribadi yang lebih kalem dan tenang. Saya sangat beruntung memiliki Mba Ita Utami sebagai partner yang tidak hanya smart  namun mampu mengimbangi dan memfilter sifat-sifat saya yang lebih ramai dan heboh😛. Dalam IIP ASEAN, Manager Online juga diberi tugas mengontrol dan memposting semua kegiatan di sosial media. 
Dalam pandangan saya sejak bergabung di Foundation sampai diberi amanah sebagai  Manager Online di IIP ASEAN, kami hanya berkomunikasi secara online dengan para Ibu dari berbagai negara tanpa bertatap muka, ditambah dengan perbedaan waktu yang ga kalah "ruwet" nya,  maka hal inilah yang saya sebut sebuah tantangan.
Tantangan pertama yang saya temukan adalah:
1. Perbedaan Waktu. 
Mengingat member IIP ASEAN memiliki perbedaan waktu yang cukup signifikan antara wilayah ASIA dan Timur Tengah saya melakukan pengamatan terhadap aktivitas rekan-rekan dalam mengikuti dan merespon setiap aktivitas dan program-program yang diadakan di WAG. Dari situ dapat ditarik kesimpulan jam berapa saja mereka bisa memantau dan menanggapi aktivitas-aktivitas yang saya jalankan di WAG tersebut. 
Lalu saya membuat 2 Daftar waktu antara "busy time" dan "online jam tertentu (gadget time)" mereka, yang dapat dilihat dalam Pie Chart disamping ini. Sehingga kendala waktu dapat dicari solusinya dengan tujuan memaksimalkan waktu dan mencari waktu yang paling pas dalam mengelola WAG IIP ASEAN ini.
2. Karakter Member
Foundation diisi oleh peserta, calon member IIP serta siswa remidi kelas matrikulasi. Dan berdasarkan pengamatan bersama korwil selama ini, ada 3 karakter member yang bisa terlihat dan tampak sekali dari pergerakannya yaitu:
a. Ada yang memang benar-benar mau join di IIP
b. Ada yang biasa aja untuk join di IIP.
c. Ada yang tidak mau ikut kelas Matrikulasi tapi tetap mau menjadi member di WAG Foundation.
Saya sadar, memang naif sekali jika hanya menilai dan mengamati seseorang secara online tanpa bertatap muka secara langsung. Namun yang saya rasakan memang seperti itulah adanya. 
3. Silent Reader
Saya rasa karakter seperti ini ditemukan di semua komunitas diseluruh dunia ini hehehehe.. (CMIIW)
Namun tantangan-tantangan diatas tidak menjadikan saya gentar, support suami terhadap saya membuat saya lebih percaya diri. Saya yakin saya mampu mengemban amanah ini. Bismillahirrahmanirrahim.Sekali maju pantang surut kebelakang.
Saya yakin dengan cara inilah salah satunya saya mampu menggali potensi diri dan menghalau rasa minder yang sering muncul. Bagi saya amanah adalah sebuah tanggung jawab yang akan melatih disiplin, cekatan, fokus, terpacu dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. In shaa Allah saya mampu, karena sedikitnya saya sudah mempunyai basic organisasi cukup kuat semasa sekolah dan kuliah dulu. Terakhir di Univeristas-pun saya bergabung dengan berbagai organisasi, sebagian antara lain, di Keluarga Mahasiswa Manajemen Komunikasi saya ditunjuk untuk mengambil peran di Divisi Penelitian dan Pengembangan. Menjadi beberapa sekretaris di acara yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Sekretaris Pusat di UKM Paduan Suara Mahasiwa satu periode, lalu memegang beberapa amanah sekretaris (lagi)  serta ketua pelaksana pada berbagai acara di UKM Paduan Suara Mahasiswa, selanjutnya menjadi Ketua Departemen Sumber Daya Manusia di Unit yang sama ditahun yang berbeda. Lalu mengikuti beberapa organisasi dan kepelatihan yang diadakan oleh Universitas, Fakultas dan BEM. Baik di tingkat Universitas maupun nasional. Saya menyukai setiap peran dalam berkontribusi selama berorganisasi. Saya adalah pribadi yang disiplin, ulet, pekerja keras, mandiri, konsisten, dan bertanggung jawab.
Dengan menceritakan hal ini bukan untuk menjadikan saya jumawa dengan sebuah jabatan. (Astaghfirullahaladzim, semoga saya terhindar dari segala niat yang tidak baik). Menurut saya penting bagi kita untuk mengenal kemampuan diri kita sendiri. Agar kemampuan ini dapat membantu kita menemukan siapa diri kita dan kemampuan ini dapat membawa manfaat bagi komunitas yang sedang kita jalani. Saya menyebut hal ini sebagai bagian dari bakat alami. Saya rasa Allah pun sudah memberikan bakat yang berbeda-beda kepada setiap orang. Kita-lah yang harus menemukan dan mencari apa bakat kita, dan mengembangkan bakat-bakat tersebut. Bagi saya karena bakat ini juga yang membuat saya ditunjuk untuk berkontribusi dalam sebuah komunitas (organisasi) yaitu dengan cara mengemban sebuah amanah Diberi kepercayaan menandakan bahwa kita tidak hanya mampu, namun disisipkan harapan agar kita bertanggung jawab terhadap amanah-amanah tersebut. 
Tahun 2017 akan segera berakhir. Sebagai Manager Online, saya sudah merencanakan tambahan beberapa agenda/program serta tetap melanjutkan program-program yang sudah dijalani baik pada WAG IIP Foundation maupun pada WAG Member ASEAN. Tahun ini kami sudah menjalankan 4 Program  rutin dalam satu minggu dan 1 program berkala yang dilaksanakan dalam masa 4-6 Minggu
Program WAG IIP ASEAN yang sudah berjalan (Dapat dilihat di Facebook maupun Instagram IIP ASEAN).
Dan Program-program yang sudah saya rencanakan akan coba saya jalan-kan di tahun depan adalah sebagai berikut:
1. Terus melanjutkan program yang sudah berjalan di Tahun 2017 sambil terus mereview semua program tersebut.
2. Meningkat kualitas semua member dengan menawarkan/menunjuk mereka semua secara bergiliran  untuk berperan aktif mengelola foundation dengan menjadikan mereka moderator / panitia-panitia pada Kulwhaps, Diswhaps, Kopdar dan Talkshow (poin ini sudah berjalan) 
3. Mengingat member IIP ASEAN tersebar diberbagai dunia terutama ASIA dan Timur Tengah, maka saya akan mengajukan Kopdar bagi semua cabang dalam lingkup wilayah ASIA dan Timur Tengah yang berada dalam satu wilayah tempat tinggal serta membuat program namun tetap melaporkan seluruh kegiatan offline dan kopdar  mereka kepada Koordinator Pusat. (IIP ASEAN)
4. Menjalankan Kulwhaps yang mana biasanya hanya dilakukan dalam jangka 4-6 Minggu sekali akan di lakukan sebanyak 1 bulan sekali
5. Melakukan kegiatan sosial ke Panti Asuhan serta Rumah Jompo di negara masing-masing. Hal ini dapat dilakukan oleh semua member meskipun berbeda-beda negara. Dan akan lebih mudah lagi apabila dalam satu wilayah negara ada 2 sampai 3 orang member yang dapat menjalankan program ini bersama-sama.
6. Membuat Perpustakaan Rumah (memanfaatkan salah satu rumah member) di masing-masing negara bagi member yang tinggal di satu wilayah. Bila hanya satu orang berada di satu negara (dalam wilayah ASIA atau Timur Tengah) Perpustakaan dapat di jalankan bagi anak-anak disekitar tempat tinggal.
7. Memberi kesempatan member untuk melakukan evaluasi berkala kepada pengurus atas kinerja yang sudah dilakukan dalam waktu 6 bulan sekali serta memberi kesempatan bagi semua member untuk mengajukan program apa saja yang ingin di lakukan di IIP ASEAN. Sehingga program itu akan menjadi program dari kita dan untuk kita.
8. Mengajak para Bunda untuk mengambil bagian menjadi Volunter diberbagai acara dinegara masing-masing dan melaporkan kegiatannya ke Pusat (IIP ASEAN )
Program-program, ini akan dipantau selama 3 bulan, apabila berhasil dan membawa dampak baik yang signifikan, maka program akan diajdikan program tetap atau program tambahan. Namun bila dirasa kurang cocok, kurang pantas, tidak memenuhi SDM yang dibutuhkan, maka program bisa di stop dan menjalankan program berikutnya.
Semoga semua harapan-harapan saya ini dapat berjalan dengan lancar dan maksimal. Diberi kemudahan dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas IIP ASEAN dimasa yang akan datang secara berkesinambungan dan mampu menjalankan program yang sudah disusun sesuai dengan rencana, target, visi dan misi. Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Semoga saya mampu menjalankan amanah ini sebaik mungkin. In shaa Allah
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”
(QS Al-Anfaal 27).



#NHW10
#MatrikulasiKordiBatch#5
#InstitutIbuProfesional
#MembangunKomunitas
#MembangunPeradaban

0 comments:

Post a Comment